Potensi Usaha Kecil Menengah bagi
Bangsa Indonesia
Disusun Oleh :
Salsa-Billa Syahida Al-Hasania
Terdapat banyak potensi yang dapat
dikembangkan dan banyak langkah untuk dapat meningkatkan taraf ekonomi penduduk
Indonesia, baik melalui sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Banyak
dari penduduk Indonesia mempunyai ide yang kreatif dan inovatif dalam
menghasilkan suatu produk baru. Akan tetapi, seringkali masyarakat Indonesia
cenderung lebih mengkonsumsi produk luar negeri, sehingga semangat untuk tetap
bekarya yang inovatif dan kreatif melemah. Padahal kenyataannya, produk dalam
negeri tidak kalah bagus kualitasnya dibanding produk luar negeri. Apabila
masyarakat lebih cenderung mengkonsumsi produk dalam negeri, maka secara tidak
langsung ikut serta dalam menumbuhkembangkan UKM di Indonesia yang nantinya
mempunyai dampak pada meningkatnya taraf ekonomi penduduk Indonesia. Dengan
begitu, UKM adalah sumber inovasi produksi dan teknologi, pertumbuhan jumlah
wirausahawan yang kreatif dan inovatif serta penciptaan tenaga kerja terampil
dan fleksibel dalam proses produksi untuk menghadapi perubahan permintaan pasar
yang cepat. (Tambunan, 2002)
Terdapat banyak manfaat apabila kita
lebih cenderung mengkonsumsi produk dalam negeri, antara lain dalam menjalankan
usaha atau bisnis, tentunya dibutuhkan tenaga kerja untuk mengoperasikan.
Apabila masyarakat lebih cenderung mengkonsumsi produk dalam negeri, maka UKM
yang ada akan berkembang menjadi perusahaan besar dan lebih banyak lagi
menyerap tenaga kerja. Dengan begitu tingkat pengangguran di Indonesia semakin
menurun. Karena banyak berdirinya perusahaan dan UKM di Indonesia, maka semakin
banyak pula yang membayar pajak. Hal ini tentu akan menambah devisa negara dan
tingkat ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat. (School of
Business & Management, 2016)
Namun pada kenyataannya, Usaha Kecil
Menengah (UKM) di Indonesia ini sulit berkembang sehingga mayoritas para pelaku
UKM mencari zona nyaman dengan tidak memproduksi sendiri barang yang mereka
tawarkan atau dapat disebut sebagai reseller.
Padahal, UKM yang nantinya berkembang menjadi perusahaan besar adalah pelaku
UKM yang memulainya dari bawah dengan memproduksi barangnya sendiri. Selain hal
tersebut, penyebab UKM di Indonesia sulit berkembang antara lain :
1. Kualitas
Sumber Daya manusia (SDM) yang rendah, termasuk tingkat pendidikan terakhir dan
kemampuan melihat peluang bisnis terbatas.
2. Etos
kerja dan kedisiplinan masyarakat Indonesia yang masih rendah. Etos kerja
sebagian orang Indonesia digambarkan hiprokrit (munafik), gemar berpura-pura
dan apa yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dihatinya. (Lubis, 1978)
3. Sering
mengandalkan anggota keluarga sebagai pekerja yang tidak di bayar
4. Manajemen
keuangan yang buruk, sehingga pemasukan dan pengeluaran tidak tercatat dengan
rapi. Hingga pada akhirnya uang yang diperoleh tidak dapat beroperasi untuk
menjalankan usaha atau gulung tikar.
5. Pelaku
UKM tidak menyediakan garansi barang yang dijualnya atau pelayanan yang tidak
memuaskan apabila terdapat konsumen yang mempunyai keluhan terhadap produk yang
dibelinya. Seringkali konsumen kebingungan harus menghubungi kepada siapa,
karena produk dalam negeri kebanyakan tidak mencantumkan nomor costumer service dalam produknya.
Selain sulit dalam berkembang, UKM di Indonesia
juga mengalami kendala mengenai produk dalam negeri yang susah dalam menghadapi
produk-produk impor di pasar domestik dan kalah saing dalam menembus pasar
global dengan produk-produk luar negeri. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Negara atau
usaha akan menang pada persaingan pasar global karena mempunyai beberapa
keunggulan, diantaranya :
1.
Penguasaan teknologi yang baik.
2.
Sumber Daya Manusia (SDM) dengan
kualitas yang tinggi dan memiliki kreativitas, etos kerja, kedisiplinan dan
motivasi yang tinggi.
3.
Kualitas serta mutu yang baik
dalam produk yang dihasilkan.
4.
Sistem manajemen dan struktur
organisasi yang terorganisasi dengan baik.
5.
Modal dan sarana prasarananya
memenuhi kebutuhan proses produksi.
6.
Memiliki jaringan bisnis di dalam
dan diluar negeri untuk memudahkan dalam menentukan strategi pemasaran dan
melakukan promosi produk yang dijualnya.
Agar suatu produk dapat bersaing dalam
perdagangan bebas, baik pasar domestik maupun pasar global, maka terdapat dua
kondisi yang harus dipersiapkan dengan baik. Dua kondisi tersebut ialah
lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal yang
mencangkup kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), penguasaan teknologi dan
informasi, struktur organisasi, sistem manajemen, budaya bisnis, kekuatan
modal, dan jaringan bisnis dengan pihak luar. Sedangkan lingkungan eksternalnya
mencangkup faktor dari pemerintah dalam menetapkan kebijakasanaan ekonomi, penciptaan
kondisi pasar yang kondusif oleh pemerintah, infrastruktur yang dibutuhkan
terpenuhi, dan tingkat pendidikan masyarakat. Selain kedua kondisi tersebut,
perusahaan-perusahaan yang masuk ke pasar internasional dalam mengembangkan
suatu posisi, bersaing melewati suatu proses yang berkembang. (Tambunan, 2002) Berkembang yang
dimaksudkan disini adalah akan lebih baik apabila UKM dalam melakukan ekspor
pada tahap awal, melewati agen-agen eksportir yang independen, baru setelah
merasa kuat, bisa melakukan ekspor secara langsung. Namun kebanyakan saat ini,
banyak pelaku UKM yang mempunyai kendala dalam mengekspor produk mereka,
kendala tersebut antara lain :
1. Masalah
permodalan yang terletak pada suku bunga bank yang tinggi
2. Terlalu
banyaknya peraturan pemerintah, termasuk mengenai prosedur ekspor yang terlalu
panjang, fasilitas pelabuhan kurang memadai, pasokan bahan baku tidak selalu
ada, keterbatasan teknologi dan SDM yang membuat pelaku UKM sulit meningkatkan
kualitas dan mutu produk yang dihasilkan
3. Persaingan
harga yang ketat di pasar global. Tingkat harga yang ditentukan dipengaruhi
oleh biaya pengadaan bahan baku, biaya produksi, biaya pemasaran hingga biaya
distribusi.
Jika
terdapat kendala seperti diatas tersebut, untuk mengatasinya kembali ke
masing-masing pelaku UKM sendiri bagaimana cara menyiasatinya. Maka diakhir
nantinya akan muncul pertanyaan, apakah UKM tersebut akan berkembang atau
sebaliknya akan lenyap dengan sendirinya secara bertahap? Selain upaya dari para
pelaku UKM, pemerintah juga semestinya ikut berupaya dalam meminimalisir supaya
produk dalam negeri tidak kalah saing dengan produk luar negeri di pasar global
dengan cara :
1.
Mengeluarkan kebijakan safeguard, yaitu pengenaan Bea Masuk
Tindakan Pengamanan (BMPT). Kebijakan ini digunakan agar produk impor tidak
terlalu banyak di Indonesia, sehingga produk dalam negeri masih dapat bersaing
dan memiliki celah untuk mengembangkannya.
2.
Solusi complementary merupakan kebijakan dalam perdagangan yang saling melengkapi
antara Indonesia dengan negara luar. Indonesia perlu memperhatikan struktur
produksi dan ekspor mana yang berbeda dari luar negeri. (Prasetyantoko) Kebijakan ini sangat
membantu para pelaku UKM yang ingin memulai usaha, sehingga dapat mengetahui
produk apa saja yang tidak diproduksi di luar negeri.
3.
Solusi Voluntary Export Restraint
(VER) yaitu Indonesia meminta negara luar negeri secara sukarela membatasi
ekspornya ke Indonesia dengan cara mencabut subsidi ekspor. (School of
Business & Management, 2016)
Dengan demikian, UKM yang pada awalnya
sebagai sumber penting kesempatan kerja, sumber pendapatan untuk kelompok
masyarakat yang berpenghasilan rendah dan motor penggerak utama dalam pembangunan
ekonomi di daerah perdesaan kini UKM sangat diharapkan dapat berperan seperti
negara-negara maju yakni sebagai salah satu sumber penting peningkatan ekspor
non-migas.
Daftar Pustaka
Lubis, M. (1978). Manusia Indonesia (Sebuah
Pertanggungjawaban). Jakarta: Yayasan Idayu.
Prasetyantoko, A. Analisis Kebijakan dari Center for Financial Policy Studies.
School of Business & Management. (2016, Agustus 2). Diakses pada Oktober 31, 2018,
dari sbm.binus.ac.id:
sbm.binus.ac.id/2016/08/02/kecenderungan-masyarakat-indonesia-mengkonsumsi-produk-luar-negeri/
Tambunan, D. T. (2002). Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Jakarta:
Salemba Emban Patria.
Komentar
Posting Komentar